Naskah
Isi artikel
Oleh Oktani Haloho · 22 Maret 2026
Abstrak
Suku Batak Toba memiliki banyak filosofi kehidupan atau pedoman hidup. Salah satu filosofi tersebut adalah Anakkon Hi Do Hamoraon di Au. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep berpikir dan perpektif orang tua suku Batak Toba yang tinggal di kota Palangka Raya dalam memaknai filosofi Anakkon Hi Do Hamoraon di Au. Metode penelitin yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa filosofi Anakkon Hi Do Hamoraon di Au masih sangat melekat pada orang tua suku Batak Toba di Palangka Raya. Filosofi ini berarti bahwa anak kebanggaan, kehormatan, kekayaan, dan harta yang paling berharga bagi keluarga. Orang tua selalu menanamkan filosofi ini kepada anak sejak dini, dengan harapan anak dan generasi selanjutnya tetap membawa identitas keluarga Batak serta menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi suku Batak Toba di dalam kehidupan.
Kata Kunci: Filosofi, kebudayaan, Batak Toba, perspektif
Pendahuluan
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat multikultural yang kaya akan nilai kearifan lokal. Tantangan dan peluang pastinya nyata dalam pembangunan bangsa Indonesia (Datuk & Nobisa, 2021). Suku Batak merupakan suku bangsa terbesar ketiga di Indonesia. Tanah Batak berpusat di danau Toba dan sebagian dari pegunungan Bukit Barisan di provinsi Sumatera Utara. Suku Batak adalah penduduk asli yang berasal dari provinsi Sumatra Utara. Suku Batak terbagi ke dalam enam subsuku, yaitu Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Angkola, Batak Karo, Batak Toba, dan Batak Mandailing (Simanjuntak, 2012). Salah satu ciri orang Batak adalah selalu memiliki marga atau nama keluarga. Marga disebutkan diakhir nama yang diturunkan berdasarkan garis keturunan ayah atau patrilineal (Simangunsong, 2012). Suku Batak Toba adalah subsuku Batak yang paling terkenal di Indonesia, sehingga tidak jarang orang beranggapan bahwa suku Batak hanya terdiri suku Batak Toba saja. Saat ini, mayoritas masyarakat suku batak Toba memeluk agama Kristen Protestan.
Masyarakat Batak Toba telah banyak merantau atau migrasi dari bona pasogit (tempat asal) ke tempat perantauan baik itu ke desa maupun ke kota termasuk ke kota Palangka Raya. Ndang marimbar tano hamateon adalah sebuah ungkapan suku Batak Toba yang berarti tidak berbeda tempat untuk mati. Ungkapan ini menjadi semboyan bagi masyarakat suku Batak Toba yang ingin berkelana atau merantau ke daerah lain untuk mempertahankan kehidupan dan mencari pengalaman hidup (Simorangkir et al., 2015).
Semangat kebersamaan perantau masyarakat suku Batak di kota Palangka Raya terlihat dari terbentuknya Lembaga Kerukunan Masyarakat Batak, dan adanya perhimpunan atau kumpulan semarga seperti Punguan Silahi Sabungan, Parsadaan Toga Manalu Boru Bere, Punguan Simanjuntak Persuratan, dan Punguan Manalu. Hal ini bertujuan untuk menghidupkan dan mengimplementasikan nilai-nilai kearifan budaya suku Batak Toba. Semangat keagamaan perantau juga sangat melekat pada suku Batak Toba. Hal ini terlihat dari berdirinya gereja suku Batak Toba hampir di seluruh provinsi dan kota besar di Indonesia yaitu gejera Huria Kristen Batak Protestan (HKPB). Selain sebagai sarana untuk beribadah, gereja juga menjadi sarana pertemuan perantau umat Kristen Batak Toba untuk bisa saling berkomunikasi. Tidak hanya membangun gereja, tetapi juga semangat untuk merenovasi dan mempermegah gereja baik dari segi fisik maupun fasilitas.
Suku Batak Toba sangat kaya akan nilai budaya, adat dan filosofi atau pedoman hidup yang dipegang teguh secara turun temurun oleh masyarakat. Filosofi hidup ini berfungsi sebagai landasan dalam melakukan sesuatu. Salah satu filosofi kehidupan yang sangat terkenal pada masyarakat Batak Toba adalah Anakkon Hi Do Hamoraon di Au. Filosofi ini memiliki makna dan sangat mempengaruhi pola pikir, sikap, perilaku dan gaya hidup masyarakat Batak Toba pada umumnya.
Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa bahwa ada peran nilai budaya lokal dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memperoleh pendidikan yakni nilai budaya hamoraon, hagabeon dan hasangapon dan nilai budaya Anakkon Hi Do Hamoraon di Ahu (Panjaitan & Prakoso, 2016). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penelitian ini bertujuan mengungkapkan konsep berpikir dan makna secara holistik filosofi atau nilai budaya yang terkandung dalam filosofi Anakkon Hi Do Hamoraon di Ahu pada orang tua Batak Toba yang telah merantau di Kota Palangka Raya sebagai identitas kultural suku Batak Toba. Pentingnya penelitian ini adalah sebagai salah satu bentuk penguatan revitalisasi budaya. Pengangkatan nilainilai kearifan lokal adalah salah satu bentuk revitalisasi budaya dan penguatan karakter bangsa (Hilman & Hendriawan, n.d.). Hal ini bertujuan sebagai upaya pemeliharaan budaya dan sebagai bentuk upaya pertahanan terhadap pengaruh budaya asing.
Metode
Penelitian tentang konsep berpikir dan perspektif orang tua suku Batak Toba di kota Palangka Raya terhadap filosofi Anakko Hi Do Hamoraon di Au menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode kualitatif deskriptif bertujuan untuk menjelaskan, menggambarkan, melukiskan, dan menjawab secara terperinci permasalahan yang akan diteliti (Sugiyono, 2013). Untuk mendapatkan informasi dari narasumber primer yaitu, orang tua yang tergabung dalam gereja HKBP dan Punguan Simanjuntak Parsuratan dan Punguan Manalu. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi melalui beberapa website, jurnal yang relevan guna memperkaya informasi. Hasil observasi dan wawancara dianalisis kemudian dikaitkan sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya. Data yang telah terkonfirmasi kemudian diinterpretasikan dalam bentuk tulisan agar dapat memberi informasi kepada khalayak dan sebagai salah satu bentuk sebagai pengembangan sosial dan kemanusiaan (Rahman et al., n.d.).
Hasil dan Pembahasan
Hasil
Salah satu filosofi kehidupan yang sangat terkenal pada masyarakat Batak Toba adalah Anakonki Do Hamoraon di Au. Arti dari filosofi ini yaitu adalah anak sayalah kekayaan saya, anak saya adalah kehormatan saya, dan anak saya adalah harga yang paling berharga (Ndona, 2018). Filosofi ini tumbuh dan telah mengakar secara turun temurun dalam kehidupan keluarga suku Batak dan menjadikan pandangan hidup ini sebagai tujuan hidup. Filosofi ini diadopsi dalam sebuah lagu dengan judul Anakkon Hi Do Hamoraon di Au karya seniman Batak Nahum Situmorang. Lagu ini, hingga sekarang sering diperdengarkan dalam aktivitas kemasyarakatan Batak seperti dalam acara pernikahan adat. Bahkan uniknya dahulu ada orang tua ketika memberikan bekal uang kepada anak yang akan pergi sekolah ke luar kota sembari menyanyikan lirik lagu ini. Tujuan menyanyikan lirik lagu ini adalah orang tua ingin berpesan kepada anak bahwa orang tua berjuang, berusaha bekerja siang dan malam tanpa lelah untuk menyekolahkan anak ke jenjang tinggi karena anak adalah kekayaan bagi orang tua. Walaupun orang tua terengah-engah melewati gunung dan lembah mencari bekal kehidupan keluarga orang tua tetap semangat tanpa menyerah yang penting anak sampai ke tujuan, menggapai cita-cita, dan meraih kesuksesan karena anak adalah kehormatan bagi orang tua.
Bagi orang tua suku Batak Toba, kesuksesan terbesar dalam hidup adalah kesuksesan anak. Kesuksesan yang diharapkan oleh orang tua tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi maupun finansial melainkan pada karakter juga. Orang tua menyakini pendidikan tinggi merupakan sarana untuk meraih kesuksesan. Hal ini terlihat bagaimana orang tua lebih mementingkan aspek pendidikan anak dibandingkan aspek lainnya. Orang tua berjuang bekerja keras agar anak sekolah sampai ke jenjang tinggi bahkan jika biaya masih belum mencukupi. Tidak sedikit orang tua rela menjual tanah untuk mendukung cita-cita anak karena mereka percaya bahwa kelak anak yang akan meneruskan serta mengharumkan nama keluarga.
Menempuh pendidikan tinggi merupakan suatu kebanggaan bagi keluarga suku Batak Toba. Hal ini bisa dilihat dari pajangan foto wisuda anggota keluarga di ruang tamu dengan bingkai yang bagus dan ketika moment seleksi nasional masuk perguruan tinggi, pertanyaan yang berhubungan dengan kelulusan anggota keluarga di universitas dan program studi sangat hangat dibicarakan baik di tuppuan bahkan di gereja. Orang tua bersifat terbuka terhadap cita-cita anak, artinya orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih cita-cita tanpa intervensi. Orang tua berperan memotivasi, memberikan pertimbangan, arahan dan masukan, namun tetap anak yang mengambil pilihan sendiri. Dengan cara demikian anak diberikan kepercayaan dan dilatih untuk mempertanggungjawabkan segala pilihan dan tindakan mereka. Orang tua juga sangat mendukung jika anaknya harus meninggalkan kampung halaman pergi ke luar kota atau ke luar negeri dan dalam hal melanjutkan pendidikan ataupun mencari pekerjaan.
Pencapaian kesuksesan juga dititikberatkan pada karakter anak. Bagi orang tua karakter hormat kepada orang yang lebih tua, sopan santun, rendah hati, takut akan Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam setiap proses kehidupan adalah yang paling utama. Segala pencapaian bukan dikarenakan kehebatan, kepintaran dan kekuatan sendiri melainkan karena kasih karunia dan atas terjadi atas seizin Tuhan. Oleh karena itu, sebagai manusia tidak diperbolehkan untuk sombong karena sejatinya segala sesuatu baik itu pekerjaan, harta, jabatan, keluarga, dan kehidupan adalah milik Tuhan. Karakter demikian bisa ditanamkan oleh anggota keluarga di rumah, oleh guru sekolah minggu di gereja dan oleh guru di sekolah lewat mata pelajaran pendidikan agama kristen.
Pada umumnya penyebutan anak laki-laki di suku Batak Toba adalah anak dan anak perempuan disebut boru. Perspektif orang tua terhadap filosofi Anakkoki do Hamoraon di Au, ditujukan tidak hanya terkhusus pada anak laki-laki saja, melainkan anak perempuan juga. Anak laki-laki dan perempuan memperoleh hak dan kebebasan yang sama dalam menempuh pendidikan. Walaupun suku Batak menganut patrilineal, kesuksesan boru juga merupakan kebanggan bagi orang tua.
Sebagai orang tua suku Batak Toba yang sudah berkeluarga dan tinggal menetap di tempat perantauan yakni di kota Palangka Raya, orang tua tetap hidup sesuai dengan budaya Batak Toba dan tetap mengimplementasikan nila-nilai budaya, adat istiadat dan kearifan lokal budaya Batak Toba. Harapan orang tua kelak anak tetap familiar dengan nilai-nilai budaya dan adat istiadat serta menginternalisasi dalam kehidupan bermasyarakat dan menurunkan ke generasi berikutnya sehingga filosofi, pandangan hidup dan nilai-nilai budaya tetap hidup, berkelanjutan ke generasi selanjutnya. Harapan ini terlihat nyata dengan dukungan orang tua untuk anak dalam mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan budaya suku Batak Toba seperti terlibat dalam Naposo HKBP atau pemuda HKBP dan kegiatan adat suku Batak Toba seperti pernikahan, mamoholi (kelahiran anak), kematian dan lainnya.
Pembahasan
Filosofi bagi Suku Batak Toba
Budaya adalah cara hidup yang dimiliki bersama dan dikembangkan oleh sekelompok orang. Budaya diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi kebiasaan kelompok masyakarat secara turun temurun dimana budaya tersebut akan mempengaruhi pola sikap, pikir dan tingkah laku. Budaya terdiri dari banyak elemen kompleks, termasuk politik, adat istiadat, agama, bahasa, peralatan, pakaian, arsitektur, dan karya seni (Suprani & Pd, 2019).
Kebudayaan mengandung nilai-nilai yang dijadikan pandangan hidup, filosofi atau falsafah hidup. Nilai yang terkandung dalam filosofi hidup juga merepresentasikan tingkah laku yang tidak bisa dipisahkan dari konteks kebudayaan. Nilai-nilai tersebut secara langsung mempengaruhi dan dipengaruhi oleh dinamika kehidupan masyarakat. Kebudayaan dan pendidikan adalah suatu upaya baru yang efektif dalam pembentukan karakter siswa melalui penanaman nilai-nilai kearifan lokal dalihan na tolu pada msyarakat suku Batak Toba. Dalihan na tolu merupakan struktur dalam masyrakat suku Batak Toba. Hidup saling mengormati, menghargai, tolong menolong dan menjauhkan masyarakat dari konflik internal perrihal suku, agama adalah nila-nilai kearifan lokal dalihan na tolu (Lubis et al., 2019). Filosofi atau falsafah berarti sikap batin dari suatu masyarakat atau dapat diartikan pula sebagai pandangan hidup. (Depdiknas 2018) Filosofi masyarakat suku Batak Toba merupakan sebuah kekayaan besar yang secara tidak langsung memberi sumbangan terhadap pengembangan peradaban bangsa dan dunia (Hutahaean & Agustina, 2020). Demikian juga filosofi Anakkoki do Hamoraon di Au mengandung nilai-nilai penting yang dianut oleh masyarakat suku Batak Toba.
Pendidikan Tinggi
Masyarakat suku Batak memiliki pemahaman kesuksesan yang digambarkan oleh trilogy, yaitu: hamoraon, hagabeon dan hasangapon (Simorangkir et al., 2015). Hagabeon bagi masyarakat suku Batak Toba adalah memiliki keturunan. Hasangapon adalah kehormatan. Salah satu cita-cita utama orang tua yang ditularkan kepada anak adalah, memiliki kehidupan yang terhormat, dalam hal ini berarti memiliki hasangapon (Dalimunthe & Lubis, 2019). Hamoraon secara harfiah berarti kekayaan. Arti hamoraon adalah keinginan memiliki harta dan kekayaan. Hal inilah yang mendasari orang batak Toba sangat gigih untuk mencari uang (Barus et al., 2019). Hamoraon mencerminkan gagasan tentang kondisi material yang melimpah dalam kehidupan aktual seseorang. Hamoraon diperoleh melalui usaha mencari nafkah dan mendapatkan pekerjaan bagus sehingga bisa mandiri dan berkelimpahan secara finansial dan material.
Makna kata Hamoraon pada filosofi Anakkoki do Hamoraon di Au tidak hanya berfokus pada kekayaan materi tetapi juga pada karakter. Pendidikan bukan hanya sekedar pengajaran. Pendidikan adalah pembentukan kepribadian, transformasi nilai dan transfer ilmu pengetahuan. Aspek kognitif dan afektif adalah dua hal penting dalam Pendidikan (Nurkholis, 2013). Harapan menggapai cita-cita dan impian bisa diperoleh lewat pendidikan.
Semboyan Anakkoki do Hamoraon di Au memiliki dampak yang sangat luar biasa, sehingga pada sekitar tahun 1960-an mayoritas masyarakat suku Batak sudah menjalani pendidikan dasar, menegah, dan bukan hanya sebatas bebas buta huruf melainkan bebas kemiskinan ilmu (Simanjuntak, 2012). Anak pada filosofi Anakkoki do Hamoraon di Au dimaknai sebagai harta yang tidak ternilai harganya, harta yang paling berharga dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun itu. Dengan memegang prisip tersebut, maka tidak jarang orang tua suku Batak Toba yang sedang berjuang menyekolahkan anak baik itu dijenjang menegah, atas maupun tinggi mengelontarkan kata-kata, baen ma inang namaribak-ribak on majo ni pakke asal ma sikkola akka gellenghan, ni taon majo mangan somangan asalma ma sonang gellekki yang berarti tidak masalah saya memakai pakaian yang sobek/rusak asalkan anak bisa sekolah, tidak masalah saya tidak makan asal anak saya bahagia (Situmorang, 2017). Perkataan ini menunjukkan perjuangan dan keiklasan orang tua memperjuangkan anak demi mencapai cita-cita.
Orang tua menyadari penuh mengasuh, mendidik dan membimbing anak hingga anak untuk siap menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan bermasyarakat adalah tangggung jawab orang tua. Oleh karena itu, meskipun hidup orang tua sangat sederhana tetapi anak harus melanjutkan sekolah ke kota besar dan ke jenjang yang tinggi. Orang tua tidak memberi batasan pendidikan kepada anak melainkan memberikan dengan penuh perjuangan kesempatan. Orang tua menyadari pendidikan adalah cangkul emas untuk meraih cita-cita guna meningkatkan taraf hidup dan membentuk mental dan moralitas yang baik. Pada umumnya masyarakat suku Batak Toba hingga kini masih tetap konsisten bahwa pendidikan adalah hal terpenting dan menempatkan pendidikan anak sebagai prioritas hidup (Simanjuntak, 2012).
Penyematan status sosial dalam kegiatan peradatan dan di lingkungan masyarakat adalah pencapian akhir dari pencapaian cita-cita masyarakat Batak Toba. Melalui pendidikan, peluang masyarakat untuk memperoleh hamoraon, hagabeon dan hasangapon semakin tinggi (Panjaitan & Prakoso, 2016). Prinsip hamoraon, hagabeon dan hasangapon menjadi menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menempuh pendidikan ke jenjang tinggi agar kelak diperhitungkan dalam kegiatan peradatan dan dihormati dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Mardebata
Ada lima prinsip hidup masyarakat suku Batak Toba yang diabadikan di dalam Pustaha Laklak yaitu mardebata (percaya akan Tuhan), martutur (bertutur sapa), marpatik (taat aturan), maruhum (taat hukum) dan (beradat) (Simanjuntak, 2012). Hal ini sejalan dengan konsep pemikiran orang tua suku Batak Toba yang menilai kesuksesan pendidikan harus dibarengi dengan karakter yang kuat. Keluarga, masyarakat, dan satuan pendidikan bersinergi untuk membangun sumber daya manusia dengan memperkuat nilai-nilai agama, kemandirian, semangat kebangsaan, kepedulian sosial, dan rasa tanggung jawab demi terwujudnya Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya dan menjungjung tinggi nilai-nilai luhur, budi pekerti dan kearifan(Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter, n.d.).
Orang tua suku Batak Toba di Palangka Raya yang mayoritas beragama kristen, sangat getol mendukung anak untuk terlibat dalam kegiatan keagamaan seperti kegiatan Naposo HKBP, dimana anak dapat belajar firman Tuhan dan langsung mengimplemetasikan dalam kehidupan sosial keagamaan di tengah-tengah komunitas gereja. Sikap menghormati orang tua dan orang yang lebih tua adalah harapan terbesar orang tua kepada anak terlebih ketika anak telah sukses meraih cita-cita. Sesuai dengan hukum taurat yang kelima yaitu hormatilah ayah dan ibumu supaya lanjut umurmu ditanah yang diberikan Tuhan Allah mu kepada mu. Mendengarkan, melaksanakan nasehat orang tua adalah wujud nyata menghormati orang tua. Salah satu nasehat orang tua suku Batak yang tak pernah lekang oleh waktu adalah seruan untuk mardebata yang berarti rajin ke gereja.
Kerja Keras
Keluarga merupakan tempat pendidikan utama dan pertama dan berperan sebagai fondasi dasar pembentukan karakter. Keluarga sangat berperan dalam pengembangan karakter, penanaman nilai-nilai budaya, moralitas dan nilai-nilai keagamaan. Pendidikan karakter yang paling efektif ialah lewat teladan (role modeling). Salah satu nilai karakter orang tua yang sangat menonjol dari filosofi Anakko Hi Do Hamoraon di Au adalah kerja keras orang tua dalam menyekolahkan anak. Anak secara langsung dapat melihat kerja keras orang tua sebagai role modeling nyata. Tanah Batak berada pada bentangan Bukit barisan, dimana secara alamiah tanahnya gersang. Keluarga Batak Toba termasuk keluarga besar. Dengan gambaran demikian, bekerja keras merupakan cara yang harus dilakukan untuk bertahan hidup bagi masyarakat suku Batak Toba (Simanjuntak, 2012). Karakter ini sudah menyatu dan menjadi bagian dari diri keluarga suku Batak Toba. Kerja keras dan kreatif menjadi salah satu faktor pendukung dalam penguatan karakter bangsa.
Persamaan Hak
Hamoraon, hagabeon dan hasangapon, adalah falsafah masyarakat suku Batak Toba. Nilai hagabeon adalah hal yang terpenting (Manurung & Manurung, 2019). Hagabeon berarti memiliki keturunan. Nilai hagabeon menunjukkan makna bahwa masyakakat suku Batak Toba sangat menginginkan kehadiran anak dalam keluarga. Kehadiran anak adalah kebahagian dan berkat dari Tuhan. Tanpa anak masyarakat suku Batak Toba belum merasa kaya meskipun kaya secara materi (harta), memiliki pekerjaan dan jabatan tinggi. Kekayaan tersebut tidak lengkap tanpa kehadiran anak. seperti yang diungkapkan dalam semboyan Anakko Hi Do Hamoraon di Au (anak saya adalah kekayaan saya) (Ndona, 2018).
Salah satu tujuan acara pernikahan yang sakral bagi keluarga suku Batak Toba adalah untuk memperoleh keturunan (Sianturi & Syafrizal, 2017). Mengingat suku Batak Toba menganut prinsip patrenial, maka kelahiran anak laki-laki sangat didambakan karena memegang peranan sangat penting untuk kelanjutan marga/nama keluarga dan generasi. Oleh sebab itu, kelahiran anak sulung laki-laki merupakan berkat yang besar bagi keluarga suku Batak Toba. Apabila seseorang tidak mempunyai anak laki- laki maka generasi dan marga tersebut tidak berkelanjutan (Nupunu).
Suku Batak menganut paham patrilineal namun bagi orang tua tidak ada perbedaan anak laki-laki dan perempuan dalam memperoleh hak dan kebebasan menempuh pendidikan. Kesuksesan boru juga merupakan kebanggan tersendiri bagi orang tua. Bagi orang tua saat ini memiliki anak laki-laki dan perempuan sama saja, bahkan sebagian berpendapat bahwa di hari tua nanti anak perempuan akan banyak lebih berbakti kepada orang tua (Simorangkir et al., 2015).
Simpulan
Filosofi Anakkon Ki do Hamoraon di Au merupakan salah satu filosofi yang dipegang teguh secara turuntemurun oleh orang tua suku Batak Toba. Filosofi ini berarti anak adalah kekayaan, harta yang paling berharga, kehormatan, kebanggaan dan kekayaan yang tidak ternilai bagi orang tua. Oleh karena itu orang tua berjuang, bekerja keras bertanggung jawab, berdoa, dan memprioritaskan pendidikan tinggi anak laki-laki dan perempuan dibandingkan dengan kepentingan lainnya. Walaupun masyarakat suku Batak Toba merantau meninggalkan kampung halaman, besar harapan orang tua agar anak dan generasi selanjutnya tetap bangga membawa identitas keluarga Batak serta menginternalisasi nilai-nilai budaya dan mengejawantahkan filosofi suku Batak Toba di dalam kehidupan bermasyarakat.